Rivalitas kedua vendor digital
ini bisa diulas sebagai berikut :
diambil dari https://winpoin.com/10-alasan-mengapa-google-sangat-membenci-microsoft-dan-memberikan-dukungan-minimal-pada-windows-phone-part-2/
1. Google Tidak Melisensikan Android dan Aplikasi Milik Google sementara Microsoft Menagih “Biaya Hak Cipta” untuk Paten yang Digunakan Android
Alasan Google Membenci Microsoft
Seperti yang kita ketahui bersama, keuntungan terbesar Google adalah dari iklan. Untuk mendapatkan keuntungan yang signifikan, harus banyak orang mengakses produk-produk Google. Ini menjadikan Google mengambil langkah berani dengan “menggratiskan” banyak produk utama miliknya, seperti Gmail, GDrive, Google Music, dan tentu saja yang paling fenomenal… Android! OS buatan Google yang sempat memicu perang berkepanjangan dengan Apple (karena banyak UI-nya yang menjiplak iOS) tersebut diberikan secara gratis oleh Google kepada OEM (Original Equipment Manufacturer – Pabrikan pengolah hardware) dengan persyaratan tertentu seperti wajib menyertakan aplikasi dari Google di dalamnya, dan beberapa persyaratan lain yang relatif ringan.
Sebaliknya, Microsoft memiliki
lebih dari 300 paten yang terdapat dalam koding OS Android. Jika penasaran,
kamu dapat mengunduhnya dari sini. Karena itu terintegrasi dengan OS Android,
maka Microsoft justru dengan santai menagih biaya penggunaan paten tersebut ke
perusahaan yang membuat perangkat Android. Samsung sendiri saja sudah
menanggung beban biaya lebih dari USD 1 milyar – belum lagi pabrikan Android
lainnya. Ini tentu saja ironis bagi Google karena mereka yang menulis OS
tersebut malah tidak memiliki hak untuk menagih “ongkos pakai” atau “uang
lelah” kepada manufaktur smartphone Android.
2. Negosiasi Microsoft dengan OEM
untuk Mengurangi Tagihan Guna Paten: Pra-Install Aplikasi Microsoft di Android
Sambungan dari poin pertama tadi,
dengan hak tagihan paten milik Microsoft yang sangat besar, tentu saja OEM ingin
mengurangi biaya yang masuk ke kantong Microsoft. Tentu saja ini menjadikan
Microsoft dapat “memainkan kartu”-nya secara leluasa. Microsoft melakukan
kesepakatan dengan pabrikan smartphone Android untuk melakukan pra-install
aplikasi Microsoft di produk mereka. Ini tentu saja akan meningkatkan traffic
produk Microsoft, bahkan dari perangkat Android. Penggunaan produk Microsoft di
Android sendiri akan menggerogoti potensi pendapatan Google dari aplikasi
miliknya yang seharusnya digunakan di Android.
Google tidak dapat mencegahnya
karena ini adalah perjanjian dua arah antara Microsoft dengan OEM (terkait
penggunaan paten), sementara Google yang memiliki kesepakatan hanya terkait OS
Android, seperti yang sudah diuraikan di atas, menggratiskan OS tersebut
sehingga tidak memiliki hak menekan OEM.
Google pernah mencoba menekan
Samsung yang merupakan produsen smartphone Android tersukses di dunia, dan
dijawab Samsung dengan mengembangkan OS baru, yaitu Tizen – Menunjukkan bahwa
Samsung siap untuk membuang Android jika diganggu bisnisnya oleh Google.
3. Aplikasi Microsoft ada Dimana-mana dan “Dibutuhkan” Pengguna Android Sekalipun!
Software dan aplikasi milik Microsoft sudah biasa digunakan oleh banyak orang, sehingga mau tidak mau semua orang selalu mencari produk Microsoft ini. Yang paling utama adalah Microsoft Office. Meskipun tidak “mencintai” produk Microsoft yang satu ini, banyak orang menggunakan karena “membutuhkan”-nya. Lalu bagaimana ini mempengaruhi Google? Dengan menggunakan Microsoft Office di Android saja, berarti sudah mengurangi potensi penggunaan aplikasi Google Docs yang terinteraksi di Google Drive. Belum lagi jika pengguna Android memakai Bing, maka ini berarti potensi pendapatan Google lewat iklan berkurang. Lucunya pengurangan ini justru terjadi di wilayah yang sangat dikuasai Google, yaitu Android.
Dengan memiliki aplikasi yang
berada di mana saja, Microsoft secara langsung “memakan” potensi keuntungan
milik Google. Tentu saja Google membenci hal ini.
4. Rencana Google Memasuki Pasar
PC Hancur Lebur Karena Microsoft
Mungkin kamu tidak ingat, tapi
pada awal diluncurkan, Google Docs sangat revolusioner. Kamu dapat mengerjakan
file dokumen apa saja secara online, dan dapat langsung dikirim menggunakan
Gmail atau disimpan di Google Drive. Namun Microsoft menjawab dengan
meluncurkan Office 365. Karena Microsoft Office hingga saat ini memang aplikasi
pengolah kata dan data terbaik, tentu saja orang seketika berpaling ke Office
365. Dengan produk Microsoft ini, kita dapat merasakan pengalaman menggunakan
Microsoft Word, Excel, PowerPoint dan lain-lain secara online, bahkan
terinteraksi langsung dengan OneDrive (yang bersaing dengan Google Drive).
Google Docs pun kolaps karena langkah Microsoft ini!
Salah satu kegagalan Google
lainnya (yang diakibatkan Microsoft), adalah Chromebook. Pada tahun 2011,
Google meluncurkan laptop murah dengan OS Chrome yang terhubung secara online
dengan cepat dan ringan. Pada awalnya public antusias akan langkah Google ini.
Namun tahun 2012, Microsoft membanjiri pasar dengan laptop Windows 8 dengan
harga terjangkau. Bukan saja laptop, ini adalah awal era hybrid – laptop yang
dapat berfungsi sebagai tablet. Selain harganya terjangkau, perangkat Windows 8
ini lebih reliable karena kamu tidak perlu mengandalkan koneksi internet
(seperti Chromebooks) bila ingin menggunakan perangkat ini. Google pun gigit
jari karenanya.
5. Microsoft Mengganggu
Perkembangan Aplikasi Android dengan Banyak Cara
Aplikasi milik Android memang
adalah yang terbanyak di dunia. Namun Microsoft tidak berhentinya mengganggu
perkembangan aplikasi milik Android ini. Seperti misalnya membeli startup
developer aplikasi Android jempolan (Wunderlist adalah yang terkini diakuisisi),
atau memudahkan developer membuat aplikasi untuk Windows 10 dengan project
Astoria dan project Islandwoods.
Hal ini tentu saja membuat Google
berang, karena langkah Microsoft tersebut berpotensi menimbulkan lonjakan
signifikan pada jumlah aplikasi Windows. Ini tentu akan menggerogoti pangsa
pasar aplikasi Android secara langsung.
6. Teknologi Google Balloons
kalah oleh White Space Milik Microsoft
Pada tahun 2014, Google
meluncurkan Project Loon, sebuah upaya menyediakan akses internet ke wilayah
terpencil. Proyek ini menggunakan balon yang ditempatkan di stratosfer, pada
ketinggian sekitar 20km untuk menciptakan jaringan nirkabel dengan kecepatan
3G, sehingga dapat memancarkan sinyal Wi-Fi untuk dimanfaatkan area sekitarnya.
Proyek ini telah dirintis sejak 2008, dan tujuan Google tentu saja akses lebih
luas untuk mesin pencarinya.
Namun ini berbenturan dengan
proyek yang dirintis oleh Microsoft, yang mana juga menyediakan akses internet
untuk daerah terpencil, utamanya Afrika. Proyek White Space ini memanfaatkan
frekuensi televisi tak terpakai antara 54 MHz dan 698 MHz yang nantinya
dimanfaatkan untuk sinyal jaringan pendek. Microsoft bahkan memiliki izin resmi
dengan beberapa pemerintahan dalam proyek White Space ini, seperti AS, Inggris,
Kanada, Kenya, dan Namibia.
Fakta menunjukkan bahwa akses
Internet dengan teknologi White Space lebih baik dibandingkan dengan Project
Loon. Meskipun Google masih berupaya memperbaiki proyeknya, namun untuk
sementara mereka tertinggal jauh dalam hal ini.
7. Microsoft Memiliki Kontrol akan OS dan Produknya, Bahkan Kontrol terhadap Produsen Android
Tidak mengherankan bila Microsoft
memiliki kontrol penuh akan OS Windows Phone dan produk-produk lainnya, namun
di luar itu, Microsoft bahkan memiliki kontrol terhadap OEM produsen Android,
karena paten yang digunakan Android. Ini tentu saja membuat berang Google yang
karena menjadikan Android sebagai open source, akhirnya hanya memiliki kontrol
minimal terhadap produknya tersebut – Terutama Android yang sudah dimodifikasi
(forked Android). Ini berimbas terhadap produk Google yang lain seperti
misalnya Google TV. Karena tidak adanya kontrol terhadap OEM, maka Samsung
dengan bebas mengembangkan Tizen yang dasarnya adalah dari Android, kemudian LG
dengan bebas menolak opsi terkoneksi ke Google TV dan menggunakan aplikasi TV
mereka sendiri untuk perangkat produk LG.
Sistem Open Source Android ini
juga menjadikan Google tak berdaya ketika banyak aplikasi dibajak sehingga
orang dengan bebas mengunduh aplikasi Android (yang harusnya berbayar) dengan
gratis dalam bentuk .apk. Ini tidak terjadi pada Microsoft yang tidak bisa
‘dipintas’ sistem pembayarannya.
8. Google Drive Disalip Produk-Produk Cloud Microsoft dengan Cepat
Google Drive merupakan salah satu
sistem cloud pelopor dalam dunia internet. Namun apa yang terjadi ketika Microsoft
memproduksi OneDrive dan Azure? Mungkin dari segi traffic dan jumlah pemakai,
Google Drive lebih unggul, terutama karena produk gratisnya. Namun di segmen
Enterprise, Google Drive tidak mendatangkan keuntungan signifikan. Citra Google
sebagai perusahaan yang suka melacak penggunanya untuk kepentingan iklan turut
mempengaruhi hal ini. Sementara itu, Azure yang baru saja diluncurkan tahun
2014 kemarin, telah menghasilkan keuntungan sebesar USD 6 milyar di segmen
Enterprise. Sedangkan untuk OneDrive yang bersifat umum, tercatat banyak
pengguna Android yang memanfaatkan penyimpanan cloud Microsoft ini alih-alih
menggunakan Google Drive.
9. Android Mendominasi Dunia, Tapi Bukan Perangkat Google
Mungkin fanboy Microsoft merasa
prihatin menyaksikan penjualan perangkat Windows Phone yang seret dibandingkan
Android, namun banyak yang lupa bahwa perangkat yang terjual itu bukanlah milik
Google. Sebagaimana diketahui, Samsung mendominasi pasar perangkat Android
dunia disusul oleh Lenovo (plus Motorola yang merupakan milik Lenovo). Produk
yang benar-benar milik Google adalah Nexus dan penjualan perangkat ini tidak
signifikan.
Namun praktisi pasar seringkali
menghitung penjualan perangkat Windows Phone dipersaingkan dengan iPhone dan
perangkat Android lain, bukan dengan perangkat milik Google.
10. Microsoft Menciptakan Ancaman untuk Pendapatan Iklan Google
Penerimaan dan keuntungan Google
datang dari App Store dan Search, secara spesifik berasal dari iklan. Bahkan
90% pendapatan Google adalah dari iklan. Dengan adanya produk Microsoft di
banyak perangkat Android, bahkan upaya Microsoft untuk menyatukan OS dalam
Windows 10, tentu saja ini merupakan ancaman langsung terhadap pendapatan iklan
Google.
Satu contoh sederhana saja,
ketika seseorang dengan perangkat Android mengakses Cortana, maka secara
otomatis mesin pencari Bing terakses, dan ini berarti mengurangi potensi
pendapatan Google dari iklan. Jelas bahwa Microsoft menjadi penantang terbesar
dalam penghasilan iklan milik Google.
Kesimpulan
Dari paparan tersebut, dapat
diketahui bahwa intinya Microsoft merupakan ancaman langsung terhadap bisnis
Google di segala lini, sekaligus juga ‘penggerogot’ keuntungan yang semestinya
menjadi milik Google (dengan hak paten serta aplikasi Microsoft di Android).
Ini menjadikan tindakan Google menghambat Microsoft dengan tidak mendukung
produk Google di Windows dan Windows Phone merupakan langkah relevan untuk
menyelamatkan bisnisnya sendiri. Jika Google tidak melakukan ini, kemungkinan
profit mereka akan semakin ‘tertelan’ oleh Microsoft sendiri.

