Lost product (produk hilang), disappear, atau disebut shrinkage dalam sebuah supermarket sering terjadi. Hal ini karena pengunjungnya tidak memiliki pendikan karakter alias cacat moral. Praktik ini terbilang sering terjadi meski ancaman hukuman untuk pelakunya adalah penjara. Saking seringnya kehilangan produk, pihak manajemen mencatat kehilangan itu sebagai resiko dan dicadangkan dalam akun keuangannya. Sebagai contoh alfa midi mencadangkan kehilangan barang di gudang itu 30% dan di toko 10%. Toko yang lain juga sama, hanya prosentasenya beda-beda.
Posisi Kehilangan Produk (Shrinkage)
Pada Proses Penerimaan Produk
Terjadi pada saat suplier datang
bawa produk, and than, quantity produknya tidak sesuai antara yang di faktur
dan realnya. Makanya harus bener-bener dihitung fisik satu-satu.
Di Dalam Area Gudang
Ini juga tragis. Udah dihitung bener
waktu pencatatan penerimaan, tapi waktu penyimpanan malah berkurang. Penyebanya
banyak. Bisa karena dimakan tikus/di gondol tikus (tikus beneran). Bisa karena
tukang stok opnam gudang salah catat, atau sebab lain.
Untuk tikus sendiri pihak toko
biasanya menyewa detektif tikus yang pekerjaanya memburu dan memusnahkan tikus.
Namanya perusahaan detektif tikus adalah rent to kill.
Di Dalam Area Penjualan
Kehilangan produk pada area
penjualan disebabkan oleh konsumen yang secara sengaca mengambil (mencuri)
produk. Pencurian dalam area display supermarket dapat dilakukan oleh konsumen
perseorangan dan ada pula yang dilakukan oleh sekelompok orang.
Di Bagian Kasir
Yang sering terjadi adalah salah input. Ada yang beli 1 dus tapi di catat 1 unit. Shampo misalnya, dikaretin 10 biji tapi kasir hanya menscan barcode sekali. Artinya yang dibeli konsumen hanya 1 biji.
Jenis-jenis Kehilangan Produk (Shrinkage)
Administrative shrinkage
Diakibatkan adanya kesalahan-kesalahan pada saat penerimaan, pencatatan, pengeluaran, dan penjualan produk.
Operational shrinkage
Diakibatkan oleh pencurian dan kerusakan dan kehilangan yang disengaja oleh karyawan.
Eksternal Shrinkage
Yaitu pencurian oleh konsumen
Penyebab Timbulnya Kehilangan Produk
Menurut Alatief Bisnis Institut (2000),
ada empat faktor yang menyebabkan timbulnya kehilangan produk, yaitu sebagai
berikut.
a. Pencurian Oleh Karyawan (45%)
Karyawan merupakan penyebab
kehilangan dengan persentase terbear karena karyawan telah mengenal pola dan
sistem kerja perusahaan. Mereka juga mengetahui kelemahan perusahaan dan
peluang untuk mengambil produk perusahaan.
b. Pencurian Oleh Pihak Eksternal
(30%)
Persentase kehilangan kedua
adalah pencurian oleh pihak eksternal. Peristiwa ini bisa terjadi karena
kurangnya pengawasan dari karyawan, sehingga memberi peluang kepada pihak
eksternal, seperti konsumen untuk mengambil produk.
c. Kesalahan dan Ketidakakuratan
Pencatatan (20%)
Hal ini terjadi karena
ketidakdisiplinan dari bagian administrasi, yaitu proses admiistrasi (pencatatan)
keluar masuknya produk tidak dilakukan secara teliti. Dalam hal ini, manajer
toko paling bertanggung jawab karena ia seharusnya melakukan pengawasan secara
ketat atas kinerja bawahannya.
d. Kesalahan Pihak Pemasok (5%)
Pemasok produk kadang melakukan hal
yang tidak jujur dengan menentukan harga beli yang tidak sesuai dengan jumlah
produk yang dikirim. Penggantian produk dengan kualitas lebih rendah dari
produk yang sudah dipesan juga bisa saja terjadi.
Teknik-teknik Pencurian Produk oleh Konsumen (Consumer Theft)
Memasukkan produk ke dalam tas (the booster).
Pencurian motif ini memungkinkan
pelaku memasukkan produk ke dalam tas belanja yang dibawanya dari luar, yang
disembunyikan di dalam bajunya. Biasanya produk yang dicuri disusun secara urut
di dalam tas belanja itu.
Pencurian secara berkelompok (the diverter).
Pencurian ini dilakukan secara
berkelompok. Ketika salah seorang anggota melakukan pencurian, anggota kelompok
yang lain mengalihkan perhatian karyawan, misalnya dengan mengajak bicara atau
meminta sesuatu, sehingga karyawan harus meninggalkan counter untuk mengambil
sesuatu di tempat lain/gudang.
Menghalangi pandangan (the blocker).
Pencurian ini dilakukan oleh
lebih dari satu orang dengan menghalangi pandangan pada pantauan kamera CCTV
saat rekannya melakukan pencurian.
Menyapu bersih produk (the sweeper).
Pencurian ini dilakukan dengan menyapu bersih semua produk sehingga terkesan toko tidak menjual atau stoknya kosong.
Menyembunyikan produk di badan (the walker).
Pencurian ini dilakukan dengan
menyembunyikan produk curiannya di badan pencuri, misalnya di antara kedua paha
atau perut. Biasanya, sang pencuri menyamar sebagai wanita hamil.
Menggunakan produk (the wearer).
Pencuri memakai produk saat
mencoba di fitting room, yang terus dipakai sampai keluar area.
Bukti pembayaran palsu (carrier walk).
Pencurian semacam ini dilakukan
dengan mengambil produk dalam jumlah besar dengan menunjukkan bukti pembayaran
palsu dan melewati kasir seakan-akan produk telah dibayar.
Mengubah label harga (price charger).
Pencurian ini dilakukan dengan
menukar atau mengubah label dari harga mahal ke harga murah.
Pencurian Oleh Karyawan (Employee Theft)
Berbagai teknik yang dilakukan
oleh karyawan dalam mencuri produk di toko, yaitu sebagai berikut.
Membawa produk ke luar (the smugler),
Yaitu karyawan toko membawa produk ke luar toko atau counter dengan
disembunyikan di tempat sampah atau tas belanja.
Menginformasikan potongan (the discounter),
Yaitu karyawan toko dengan sengaja memberikan potongan harga ke teman atau keluarga yang membeli produk karena ia merasa memiliki hak di toko atau counter yang dijaganya.
Penggunaan dana perusahaan (the embezzler),
Yaitu karyawan yang menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Memberi informasi ke luar (the partner),
Yaitu karyawan dengan sengaja memberikan informasi ke pihak luar, misalnya tentang prosedur keamanan toko atau bisa juga dengan memberikan kunci counter untuk rekan yang akan mencuri di toko tersebut. Setelah berhasil mencuri, karyawan ini akan mendapatkan imbalan atas hasil pencurian temannya
Menyembunyikan produk (the stasher),
Yaitu karyawan yang dengan sengaja menyembunyikan produk tertentu di dalam toko untuk dikeluarkan pada saat terjadi markdown dari produk tersebut, sehingga karyawan ini dapat membeli dengan harga yang lebih murah. (Catatan: markdown adalah diskon yang diterapkan pada produk selama masa promosi dengan tujuan meningkatkan penjualan atau menghabiskan barang yang tingkat perputarannya rendah).
