STORE ATMOSPHERE

 


Menurut Rahmadana (2016), Store Atmosphere merupakan lingkungan gerai atau toko yang didesain sedemikian rupa melalui pencahayaan, musik, warna, penciuman, dan komunikasi visual yang dapat digunakan untuk mendorong perilaku berbelanja seseorang. Semakin menarik pengaturan suasana toko atau gerai maka akan membuat konsumen (Dharmayasa dan Sukaatmadja, 2017). Berdasarkan hal tersebut, dapat dikatan bahwa pengaturan suasana toko yang baik dapat memperbesar peluang pembelian tidak terencana tersebut.

Menurut Ma`aruf (2006), suasana toko yang baik bisa disebabkan oleh indicator-indokator sebagai berikut: 1) Perencanaan Toko: Perencanaan toko yang dimaksud adalah ketersediaan ruang dan tata letak yang ada di dalam gerai yang mana tata letak mengarah pada ketersediaan jalan atau tempat konsumen berlalulalang di dalam toko itu sendiri. Semakin mudah konsumen bergerak di dalam toko maka akan membuat konsumen merasa nyaman berada di dalam toko. 2) Komunikasi Visual: Komunikasi visual adalah bagaimana perusahaan ritel berusaha melakukan komunikasi dengan konsumen dengan menggunakan wujud tertentu yang dapat mewakili perusahaan itu sendiri, seperti lambang, iklan, suara dll. 3) Desain Toko: Desain toko adalah proses untuk menciptakan atau menghadirkan obejk-objek baru di dalam toko itu sendiri yang mana dalam desain toko ini memperhatikan aspek estetika, fungsi dan lain sebagainya, seperti pengaturan pada pencahayaan, kebersihan, suhu ruangan dan lain sebagainya.